Menu ✖

Mode Gelap
Sambut Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Gelar Aksi Donor Darah Dekranasda Manokwari Dorong Produk Akar Wangi Tembus Pasar Lebih Luas Danlanal Bintan Kobarkan Semangat Kepahlawanan, Ziarah Nasional HUT Ke-81 TNI di Pusara Bhakti Akhiri Penugasan dengan Tuntas, Yonarmed 12 Kostrad Laksanakan Alih Kodal Satgas Pamtas Pangdivif 3 Kostrad Pimpin Tradisi Penerimaan dan Pembaretan Prajurit Yonif 753/AVT Sambut HUT ke-81 TNI, Brigif 13/Galuh Rahayu Gelar Gebyar Bazar Murah untuk Masyarakat

Nasional

AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil. Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat

Avatar photobadge-check


					AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil. Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat Perbesar

 

AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil.
Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat

 

Jakarta, Intelposts.com

 

Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi PDI Perjuangan, Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP, dalam sepuluh quick wins Pemerintah saat ini, menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kunjungan Kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ke IPB University dalam rangka pembahasan implementasi AI untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Nila Yani menyoroti kondisi ribuan nelayan kecil di wilayah pesisir yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. Mereka menghadapi cuaca ekstrem, tingginya biaya operasional melaut, serta fluktuasi hasil tangkapan, namun sering kali tertinggal dalam arus transformasi teknologi.

“Bagi kami di PDI Perjuangan, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi adalah alat perjuangan. Artificial Intelligence harus hadir sebagai alat pembebasan rakyat, bukan justru menciptakan kesenjangan baru yang menjauhkan nelayan kecil dari kesejahteraan,” tegas Nila Yani.

“Di daerah pemilihan saya terdapat kawasan pesisir yang luas, dengan ribuan nelayan kecil yang setiap hari hidup dari laut dan berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, tingginya biaya operasional, serta fluktuasi hasil tangkapan. Karena itu, ketika kita berbicara _Artificial Intelligence_, fokus saya jelas: sektor perikanan dan dampaknya bagi nelayan kecil. Pertanyaannya sederhana, teknologi AI perikanan baik e-_logbook, fish technology, _maupun inovasi lainnya”.

READ  Dian Kuncoro (Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Liquefied & Compressed Natural Gas Indonesia (APL-CNGI): APL-CNGI Bangga Bisa Berkolaborasi dengan HIPMI di Sektor Energi

Ia menekankan bahwa pembahasan AI tidak boleh berhenti pada kecanggihan sistem dan algoritma, tetapi harus menjawab persoalan nyata di lapangan. Pertanyaan mendasarnya, menurut Nila, adalah apakah teknologi ini mampu membuat nelayan lebih aman melaut, lebih efisien bekerja, dan lebih berdaulat atas hidupnya sendiri.

Politisi muda ini membandingkan dengan praktik di Jepang, di mana AI telah dimanfaatkan untuk memprediksi pergerakan ikan melalui data suhu laut, arus, dan histori tangkapan, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi sederhana bagi nelayan. Pendekatan tersebut, menurutnya, mencerminkan teknologi yang berpihak dan membumi.

“Teknologi yang sejati adalah teknologi yang membebaskan. Seperti ajaran Bung Karno, kemajuan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. AI perikanan harus membantu nelayan mengurangi risiko, menekan biaya bahan bakar, dan memastikan mereka pulang melaut dengan hasil yang lebih pasti,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Nila Yani menegaskan arah perjuangan kebijakan DPR RI Komisi VII bersama Fraksi PDI Perjuangan adalah memastikan negara memprioritaskan fitur AI yang berdampak langsung bagi nelayan kecil. Di antaranya sistem prediksi cuaca dan potensi tangkapan yang mudah dipahami, pencatatan hasil tangkapan yang sederhana dan tidak memberatkan, serta transparansi informasi pasar agar nelayan tidak terus berada pada posisi tawar yang lemah.

Ia juga mendorong peran aktif dunia akademik, khususnya IPB University, untuk menjadi mitra ideologis negara dalam memilah teknologi AI yang layak didorong melalui kebijakan dan anggaran negara.

“Keberhasilan AI dalam sektor perikanan bukan diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari satu ukuran sederhana: apakah nelayan kecil hidupnya lebih aman, bebannya lebih ringan, dan masa depannya lebih pasti. Inilah makna berdirinya negara hadir dan berjuang bersama rakyat,” pungkas Nila Yani.

READ  Gotong Royong Iduladha: BRI Kantor Cabang Pasar Minggu Tebar Kebahagiaan Lewat Kurban

Melalui momentum ini, Nila Yani berharap transformasi AI di sektor perikanan dapat menjadi bagian dari jalan panjang perjuangan menuju ketahanan pangan nasional yang berdaulat. Dari langkah ini menjadi pendorong transformasi pangan nasional untuk ketahanan dan keberlanjutan pangan lokal.

Jurnalis

Fadillah

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dekranasda Manokwari Dorong Produk Akar Wangi Tembus Pasar Lebih Luas

29 September 2026 - 03:20 WIB

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Ummat Sukses Kukuhkan Susunan Kepengurusan Baru Periode 2026–2031

26 September 2026 - 12:54 WIB

RPA INDONESIA MINTA KOMISI III DPR DAN PROPAM KAWAL KASUS VANESSA TUHUTERU, TEGASKAN HAK PENDIDIKAN SHAREN DAN KEJELASAN FINANSIAL RP500 JUTA

25 September 2026 - 23:23 WIB

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi DKI Jakarta, Lusiana Herawati: Akselerasi PAD DKI Jakarta, Bapenda Dorong Ekosistem Pembayaran Daerah yang Modern dan Terintegrasi

25 September 2026 - 13:43 WIB

Mubes VII Wira Karya Indonesia Tetapkan Venessa Supit Ketum DPP, Janjikan Kejutan Program Baru

24 September 2026 - 12:26 WIB

Trending di Nasional