Menu

Mode Gelap
Satgas Pamtas Yonarmed 13 Kostrad Terima Kunjungan Kerja Dankolakopsrem 121/Alambhana Wanawwai Petarung Yonif 305 Kostrad Matangkan Persiapan Hadapi Lomba Pencak Silat Militer Danbrigif 14 Kostrad Pimpin Tradisi Pindah Satuan Prajurit Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Bangun Gapura Batas Desa Eban–Sallu Satgas INDORDB XXXIX-G MONUSCO Peringati HUT Ke-61 Yonif 412/Bharata Eka Sakti di Republik Demokratik Kongo Yonarmed 12 Kostrad Dukung Gizi Anak Sekolah Melalui Aksi Peduli di SD Inpres Beitaus

Nasional

AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil. Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat

Avatar photobadge-check


					AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil. Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat Perbesar

 

AI Harus Berjuang Bersama Rakyat, Bukan Mencekik Nelayan Kecil.
Nila Yani: Politisi Muda PDI Perjuangan Tegaskan Teknologi Harus Jadi Alat Perjuangan Rakyat

 

Jakarta, Intelposts.com

 

Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi PDI Perjuangan, Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP, dalam sepuluh quick wins Pemerintah saat ini, menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus tetap berpijak pada nilai-nilai perjuangan dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kunjungan Kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ke IPB University dalam rangka pembahasan implementasi AI untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Nila Yani menyoroti kondisi ribuan nelayan kecil di wilayah pesisir yang selama ini hidup dalam ketidakpastian. Mereka menghadapi cuaca ekstrem, tingginya biaya operasional melaut, serta fluktuasi hasil tangkapan, namun sering kali tertinggal dalam arus transformasi teknologi.

“Bagi kami di PDI Perjuangan, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi adalah alat perjuangan. Artificial Intelligence harus hadir sebagai alat pembebasan rakyat, bukan justru menciptakan kesenjangan baru yang menjauhkan nelayan kecil dari kesejahteraan,” tegas Nila Yani.

READ  Hadir Di Halal Bi Halal Kebangsaan dan Raker III Dewan Adat Bamus Betawi, Brigjen TNI (Purn) Jamaludin M.Si (Han) : Budaya Betawi Menjunjung Tinggi Nilai Kebersamaan, Saling Menghormati dan Keramahan

“Di daerah pemilihan saya terdapat kawasan pesisir yang luas, dengan ribuan nelayan kecil yang setiap hari hidup dari laut dan berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, tingginya biaya operasional, serta fluktuasi hasil tangkapan. Karena itu, ketika kita berbicara _Artificial Intelligence_, fokus saya jelas: sektor perikanan dan dampaknya bagi nelayan kecil. Pertanyaannya sederhana, teknologi AI perikanan baik e-_logbook, fish technology, _maupun inovasi lainnya”.

Ia menekankan bahwa pembahasan AI tidak boleh berhenti pada kecanggihan sistem dan algoritma, tetapi harus menjawab persoalan nyata di lapangan. Pertanyaan mendasarnya, menurut Nila, adalah apakah teknologi ini mampu membuat nelayan lebih aman melaut, lebih efisien bekerja, dan lebih berdaulat atas hidupnya sendiri.

Politisi muda ini membandingkan dengan praktik di Jepang, di mana AI telah dimanfaatkan untuk memprediksi pergerakan ikan melalui data suhu laut, arus, dan histori tangkapan, lalu diterjemahkan menjadi rekomendasi sederhana bagi nelayan. Pendekatan tersebut, menurutnya, mencerminkan teknologi yang berpihak dan membumi.

“Teknologi yang sejati adalah teknologi yang membebaskan. Seperti ajaran Bung Karno, kemajuan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. AI perikanan harus membantu nelayan mengurangi risiko, menekan biaya bahan bakar, dan memastikan mereka pulang melaut dengan hasil yang lebih pasti,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Nila Yani menegaskan arah perjuangan kebijakan DPR RI Komisi VII bersama Fraksi PDI Perjuangan adalah memastikan negara memprioritaskan fitur AI yang berdampak langsung bagi nelayan kecil. Di antaranya sistem prediksi cuaca dan potensi tangkapan yang mudah dipahami, pencatatan hasil tangkapan yang sederhana dan tidak memberatkan, serta transparansi informasi pasar agar nelayan tidak terus berada pada posisi tawar yang lemah.

Ia juga mendorong peran aktif dunia akademik, khususnya IPB University, untuk menjadi mitra ideologis negara dalam memilah teknologi AI yang layak didorong melalui kebijakan dan anggaran negara.

READ  Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bihalal MN KAHMI 2026: Merawat Persatuan Indonesia untuk Perdamaian Dunia

“Keberhasilan AI dalam sektor perikanan bukan diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari satu ukuran sederhana: apakah nelayan kecil hidupnya lebih aman, bebannya lebih ringan, dan masa depannya lebih pasti. Inilah makna berdirinya negara hadir dan berjuang bersama rakyat,” pungkas Nila Yani.

Melalui momentum ini, Nila Yani berharap transformasi AI di sektor perikanan dapat menjadi bagian dari jalan panjang perjuangan menuju ketahanan pangan nasional yang berdaulat. Dari langkah ini menjadi pendorong transformasi pangan nasional untuk ketahanan dan keberlanjutan pangan lokal.

Jurnalis

Fadillah

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nusantara Centre Gelar Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila, Peluncuran Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan (Pergolakan Ekonomi Politik Indonesia) & Simposium Nasional “Urgensi Undang-Undang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial dalam Menata Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”, 

4 Agustus 2026 - 10:02 WIB

BRI BO Bekasi Gelar Apresiasi bagi Nasabah Pensiunan, Perkuat Layanan Berkelanjutan

4 Agustus 2026 - 02:32 WIB

Kapolri Listyo Sigit Prabowo Resmi Tutup Kejuaraan Bulu Tangkis Kapolri Cup 2026, Tegaskan Komitmen Polri Dukung Prestasi Atlet Nasional

2 Agustus 2026 - 10:52 WIB

International CMA Batch 19: Langkah Nyata Menuju Profesionalisme Global

1 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Sinergi Wartawan dan Agraria: PJBW-BPN Bogor 1 Gelar Aksi Sosial di Jalan Tegar Beriman

1 Agustus 2026 - 08:43 WIB

Trending di Nasional