Dany Soedarsono: HWK Harus Bertransformasi, Perkuat Peran Politik Perempuan di Era Digital

Jakarta, Intelposts.com
Ketua Umum Himpunan Wanita Karya (HWK), Dany Soedarsono, menegaskan pentingnya konsolidasi organisasi dan penguatan peran politik perempuan dalam menghadapi dinamika zaman, khususnya di tengah perkembangan digitalisasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Hal tersebut disampaikan Dany dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional (Munas) X HWK Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Munas kali ini mengusung tema “Konsolidasi HWK dalam Penguatan Peranan Politik Perempuan di Era Digital.”
Dany menilai, tantangan yang dihadapi perempuan saat ini semakin kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, krisis kepercayaan, degradasi nilai dan moral, hingga ketimpangan dalam kehidupan sosial, politik, dan dunia kerja.
Menurutnya, perempuan kerap menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari berbagai krisis, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam ruang publik. Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang memiliki kepekaan, empati, integritas, serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
“Perempuan menjadi korban” dari berbagai dinamika sosial, termasuk perilaku tidak beradab di media sosial, pelecehan digital, serta pandangan yang masih menempatkan perempuan berdasarkan penampilan dan kecantikan semata.
Dany menekankan bahwa perempuan harus dipandang berdasarkan kapasitas, kompetensi, pemikiran, dan kontribusinya bagi masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa budaya patriarki masih menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama untuk mewujudkan kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat perempuan.
Dalam konteks tersebut, Dany menyebut perempuan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga, masyarakat, sekaligus melahirkan generasi pemimpin bangsa yang berlandaskan idealisme, nasionalisme, dan patriotisme.
“Perempuan yang berhasil bukan semata-mata perempuan yang mencapai kesuksesan bagi dirinya sendiri, melainkan juga perempuan yang mampu membentuk anak-anak dan masyarakat di lingkungannya menjadi pejuang yang mengutamakan kepentingan masyarakat,” ungkapnya.
Ia mencontohkan tokoh perempuan nasional, seperti Laksamana Malahayati dan Raden Ajeng Kartini, sebagai representasi perjuangan perempuan dalam membangun bangsa dan memperjuangkan harkat serta martabat.
HWK Diminta Tinggalkan Pola Business as Usual
Lebih lanjut, Dany menegaskan bahwa Munas X HWK harus menjadi momentum pembenahan dan transformasi organisasi agar semakin relevan dengan kebutuhan perempuan dan masyarakat di tengah perubahan zaman.
Ia mengingatkan agar HWK tidak terjebak dalam pola kerja business as usual, melainkan melakukan konsolidasi secara menyeluruh, baik dari sisi wawasan, kelembagaan, maupun program kerja.
Menurut Dany, derasnya arus informasi digital dan perkembangan AI menghadirkan tantangan tersendiri. Masyarakat membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam agar tidak mudah terjebak informasi yang menyesatkan serta kehilangan pijakan terhadap nilai-nilai kebangsaan.
HWK, katanya, memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pembelajaran publik dan menjaga agar kehidupan berbangsa dan bernegara tetap berpegang pada filosofi serta cita-cita luhur sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi agar tidak mudah diintervensi maupun diinfiltrasi, sekaligus memperkuat eksistensi, keterwakilan sosial, dan jejaring kelembagaan.
“Keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh persoalan kemasan. Tapi bagaimana kita melaksanakan amanah masyarakat dengan baik, benar, berani, bertanggung jawab, dan jujur,” tegas Dany.
Kepemimpinan Berintegritas Jadi Kunci
Dalam pandangannya, krisis kepercayaan yang melanda berbagai sektor kehidupan saat ini juga merupakan cerminan krisis kepemimpinan. Oleh karena itu, penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan menjadi kebutuhan mendesak.
Dany menilai, kepemimpinan yang bermartabat harus dibangun melalui integritas, kejujuran, tanggung jawab, keberanian, serta kesediaan untuk berkorban demi kepentingan bersama.
Ia mengingatkan bahwa jabatan dan kekuasaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar sarana meraih kedudukan.
“Kekuasaan yang diamanahkan kepada kita adalah kekuasaan karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur,” tuturnya.
Dany berharap Munas X HWK dapat menjadi ruang konsolidasi yang memperkuat solidaritas, kesamaan visi, serta komitmen seluruh pengurus dan kader di berbagai daerah.
Ia mengajak seluruh elemen HWK untuk membangun organisasi dengan semangat silih asuh, silih asah, dan silih asih, serta menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan perjuangan.
Menutup sambutannya, Dany mengajak perempuan Indonesia untuk terus berdiri teguh, berkarya, dan berprestasi demi kemajuan bangsa.
“HWK bangkit, perempuan berprestasi. Perempuan Indonesia teguh berdiri, HWK berkarya, Indonesia kian gemilang,” ucapnya dalam pantun penutup.
Munas X HWK 2026 selanjutnya secara resmi dibuka oleh Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang hadir bersama jajaran pimpinan partai dan para undangan.














