Menu

Mode Gelap
Satgas Pamtas Yonarmed 13 Kostrad Terima Kunjungan Kerja Dankolakopsrem 121/Alambhana Wanawwai Petarung Yonif 305 Kostrad Matangkan Persiapan Hadapi Lomba Pencak Silat Militer Danbrigif 14 Kostrad Pimpin Tradisi Pindah Satuan Prajurit Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Bangun Gapura Batas Desa Eban–Sallu Satgas INDORDB XXXIX-G MONUSCO Peringati HUT Ke-61 Yonif 412/Bharata Eka Sakti di Republik Demokratik Kongo Yonarmed 12 Kostrad Dukung Gizi Anak Sekolah Melalui Aksi Peduli di SD Inpres Beitaus

Nasional

MENGUBUR MENTAL KOLONIAL

Avatar photobadge-check


					MENGUBUR MENTAL KOLONIAL Perbesar

MENGUBUR MENTAL KOLONIAL

 

Oleh: Iwan Gunawan | Periset Senior Nusantara Senior.

 

Indonesia kerap disebut sebagai negeri kaya yang hidup miskin. Ungkapan ini terdengar klise, tetapi terus menemukan pembenarannya. Data resmi dan terbuka menunjukkan Indonesia berada di jajaran teratas dunia dalam cadangan energi, pangan, dan mineral kritis. Namun kekayaan itu tak kunjung menjelma menjadi kekuatan. Ia berhenti sebagai potensi, bukan daya.

Masalahnya bukan pada ketiadaan sumber daya alam, melainkan pada cara bangsa ini memaknainya.

John Archibald Wheeler, fisikawan teoretis Amerika Serikat, pernah mengajukan sebuah gagasan yang terdengar abstrak: it from bit. Realitas, menurut Wheeler, lahir dari informasi. Sesuatu menjadi “ada” bukan semata karena ia eksis secara material, melainkan karena ia dikenali, dipahami, dan diberi makna melalui pengetahuan. Dalam konteks ekonomi-politik, sumber daya alam baru menjadi kekuatan jika ia hadir sebagai kesadaran strategis, bukan sekadar angka statistik atau komoditas dagang.

Secara faktual, posisi Indonesia sangat kuat. Cadangan batubara termasuk terbesar di dunia. Nikel—mineral kunci transisi energi dan baterai kendaraan listrik—menempatkan Indonesia sebagai pemain global utama. Potensi panas bumi menjadikan Indonesia pusat energi terbarukan dunia, meski pemanfaatannya masih tertinggal jauh. Di sektor pangan dan kelautan, Indonesia juga berada di barisan depan produsen dunia.

READ  Ketua Perwanti PSMTI Pusat, Helga Abraham Terima Penghargaan di Ajang Women Empowering Award 2025

Namun di titik inilah paradoks bekerja. Kekayaan yang besar itu tidak berbanding lurus dengan pemerataan, kemandirian, atau daya tawar negara. Nilai tambah lebih banyak mengalir keluar. Negara sering hadir sebagai regulator administratif, bukan sebagai arsitek nilai. Relasi ekonomi yang terbentuk masih menyerupai pola lama: bahan mentah keluar, keuntungan menumpuk di pusat, dan masyarakat lokal tetap berada di pinggiran.

Ini bukan sekadar soal kebijakan teknis. Ini soal watak. Inilah yang oleh banyak pemikir disebut sebagai sisa mental kolonial—bukan dalam arti penjajahan fisik, melainkan cara berpikir. Mental yang melihat kekayaan alam sebagai sesuatu yang “lebih aman” dikelola orang lain. Mental yang puas pada setoran jangka pendek, tetapi abai pada kedaulatan jangka panjang. Mental yang mengganti visi dengan insting pasar.

Padahal, kekuatan masa depan sebuah negara—future power—ditentukan oleh tiga fondasi utama: energi, pangan, dan mineral kritis. Ketiganya bukan lagi isu ekonomi semata, melainkan basis geopolitik global. Negara yang menguasai relasi antara sumber daya, teknologi, dan informasi akan menentukan arah dunia. Negara yang gagal mengelola relasi itu akan terus menjadi pemasok bagi kemakmuran pihak lain.

Di sinilah persoalan Indonesia menjadi terang. Bukan kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan relasi generatif. Data tersedia, tetapi tidak terhubung menjadi strategi. Potensi ada, tetapi tidak diterjemahkan menjadi arsitektur kebijakan. Sumber daya hadir, tetapi tidak membentuk daya.

Nilai tidak lahir dari objek semata, melainkan dari hubungan. Panas bumi bukan sekadar megawatt; ia adalah relasi antara ilmu geologi, investasi, keberanian politik, dan visi energi bersih. Nikel bukan hanya tonase bijih; ia adalah relasi antara industri, riset, tenaga kerja, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pangan bukan sekadar produksi, tetapi relasi antara petani, teknologi, pasar, dan perlindungan negara.

READ  Ritual Self-Care Esensial di Secret Garden Spring Sebelum Melanjutkan Petualangan di Bali.

Selama relasi-relasi itu timpang, selama informasi tentang kekayaan tidak menjadi kesadaran strategis nasional, Indonesia akan terus mengulang cerita lama: kaya di atas kertas, miskin dalam kenyataan.

Mengubur mental kolonial berarti berani mengubah cara pandang. Mengakui bahwa selama ini kita kerap memilih jalan termudah, bukan jalan konstitusional. Mengakui bahwa ketergantungan bukan takdir, melainkan pilihan yang diwariskan dan terus dipelihara. Dari pengakuan itu, lahir kemungkinan baru: membangun mentalitas pengelola, bukan penyewa; perancang masa depan, bukan penonton pasar.

Pengalaman sebagai bangsa terjajah seharusnya menjadi hikmah, bukan beban. Ia mestinya melahirkan kewaspadaan terhadap pola lama yang menjelma dalam wajah baru. Neokolonialisme tidak selalu datang dengan senjata; ia hadir melalui kontrak, utang, dan kerelaan menyerahkan kendali.

Kekayaan Indonesia tidak hilang. Ia ada, tercatat, dan diakui dunia. Yang belum sepenuhnya hadir adalah keberanian untuk menghubungkan potensi itu menjadi kekuatan. Dalam bahasa Wheeler, the _bits are already there._ Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa kaya Indonesia, melainkan: apakah kita siap mengubah pengetahuan tentang kekayaan itu menjadi kendali atas masa depan kita sendiri? Semoga.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nusantara Centre Gelar Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila, Peluncuran Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan (Pergolakan Ekonomi Politik Indonesia) & Simposium Nasional “Urgensi Undang-Undang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial dalam Menata Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”, 

4 Agustus 2026 - 10:02 WIB

BRI BO Bekasi Gelar Apresiasi bagi Nasabah Pensiunan, Perkuat Layanan Berkelanjutan

4 Agustus 2026 - 02:32 WIB

Kapolri Listyo Sigit Prabowo Resmi Tutup Kejuaraan Bulu Tangkis Kapolri Cup 2026, Tegaskan Komitmen Polri Dukung Prestasi Atlet Nasional

2 Agustus 2026 - 10:52 WIB

International CMA Batch 19: Langkah Nyata Menuju Profesionalisme Global

1 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Sinergi Wartawan dan Agraria: PJBW-BPN Bogor 1 Gelar Aksi Sosial di Jalan Tegar Beriman

1 Agustus 2026 - 08:43 WIB

Trending di Nasional