Menu

Mode Gelap
KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI Yonarmed 12 Kostrad Bergerak di Perbatasan, Pos Laktutus Perkuat Upaya Pencegahan TBC bagi Warga Belu Pastikan Kesiapan Tugas, Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Terima Kunjungan Asops Panglima TNI di Pos Haumeniana Doa Bersama dan Santunan Yatim, Satgas TNI Konga UNIFIL Siap Emban Misi Perdamaian Madivif 1 Kostrad Gelar Sholat Idul Adha 1447 H, Perkuat Iman dan Kebersamaan Bersama Masyarakat Prajurit dan Keluarga Besar Divif 2 Kostrad Khidmat Rayakan Idul Adha 1447 H

Opini

Magnifica Humanitas dan Gen Z

Avatar photobadge-check


					Magnifica Humanitas dan Gen Z Perbesar

Magnifica Humanitas dan Gen Z

 

Oleh : Christian A. D. Rettob (Aktivis PMKRI)

 

Bahwa kepausan kembali menyoroti revolusi industri dan permasalahan sosial yang menyertainya. Selain mengikuti Paus Leo XIII sebagai pionir gereja global di awal revolusi industri, Paus Leo XIV hari ini memberi sebuah pesan akan pentingnya perjalanan spiritual dalam konteks pertumbuhan dunia dan kecerdasan buatan (AI).

Kemunculan AI mencerminkan budaya baru terhadap martabat manusia. Situasi yang tidak biasa, dimana dunia kental dengan otomatisasi dan digitalisasi. Sejak peluncuran ChatGPT oleh OpenAI, perusahaan lain pun berlomba-lomba mengembangkan karya teknologinya. Hal ini cukup kontras terhadap eksistensi manusia dan menimbulkan tekanan sosial terhadap kreativitas, jika penerapannya tidak teratur.

Melihat implikasi AI terhadap etika, moral, dan tatanan sosial saat ini, lahirnya dokumen Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung) dipandang sebagai warisan ajaran sosial Gereja, untuk menjaga martabat dan kelestarian moral manusia di tengah disrupsi teknologi.

Sebagai ensiklik perdana pada pontifikat Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas merupakan memorial Rerum Novarum yang kini berusia 135 tahun. Buah karya yang memiliki hubungan antropologis dengan Gen Z, kelompok demografi yang lahir dengan kesiapan emosional untuk beradaptasi.

Tugas Perutusan Gen Z
Meskipun Gen Z saat ini terampil dan memahami teknologi, namun sulit untuk menghindari bahaya AI seperti ketergantungan pada mesin dan tidak lagi berpikir kritis. Mengambil jalan pintas akademis atau plagiarisme, rentan terhadap hoaks, dan terisolasi dari lingkungan adalah masalah serius dewasa ini. Belum lagi meningkatnya ketegangan geopolitik, krisis iklim, deforestasi, serta fragmentasi ekonomi global, semuanya merupakan kompleksitas masalah yang rumit untuk diselesaikan.

READ  Double Downgrade Moody’s dan MSCI Picu Risiko Krisis Likuiditas dan Moneter.

Optimisme dalam menghadapi fenomena global ini tidak bisa dilepaskan dari seruan iman. Gen Z tidak sekadar dipanggil untuk menduduki kursi gereja atau terlibat dalam persekutuan sakramental saja, namun perlu untuk memenuhi tugas perutusan yang dimaksudkan Yesus.

Persis seperti yang tertulis dalam Yohanes 20:21. “Sama seperti Bapa yang mengutus Aku, demikian pula Aku mengutus kamu”. Konteks ayat ini menggambarkan bahwa, murid-murid Gen Z harus meneladani Yesus dalam menjalankan misi keselamatan-Nya. Memandang gereja sebagai rumah dan sarana teknologi sebagai ladang pelayanan untuk mewartakan kasih Tuhan dan kebenaran.

Spiritualitas Teknologi
Keterlibatan Gen Z dengan teknologi telah mempengaruhi tatanan sosial. Keyakinan bahwa teknologi memiliki dimensi spiritual dapat dilihat dari kisah Santo Carlo Acutis, seorang remaja Italia yang menjadi Santo Milenial pertama. Agar memahami spiritualitas teknologi, maka Gen Z harus tetap berdevosi sembari menjadikan teknologi sebagai ranah iman dan kemanusiaan, sebagaimana yang dilakukan oleh Santo Carlo Acutis.

Revolusi Industri melahirkan banyak platform global untuk berinteraksi, dan Gen Z tidak boleh ketinggalan dengan kemajuan yang ada. Jika didasarkan pada spiritualitas, misi kemanusiaan untuk mengatasi fenomena global dapat dilakukan melalui teknologi AI.

Dokumen Magnifica Humanitas menghendaki Gen Z untuk mengembangkan keterampilan, memahami etika AI, dan meningkatkan literasi digital. Kemudian menggunakan teknologi secara bijak, dan memahami paradoks AI dari sudut pandang kemanusiaan. Dengan demikian kehadiran AI dapat dipahami sebagai jembatan peradaban manusia dengan teknologi, bukan sebagai pengganti kecerdasan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI

31 Mei 2026 - 01:06 WIB

Industrialisasi ala Soemitro: Negara yang Merancang, Pasar yang Digerakkan

1 Mei 2026 - 01:09 WIB

SKEMA WFH DI TENGAH KRISIS ENERGI : SOLUSI HEMAT ATAU SEKADAR RETORIKA?

31 Maret 2026 - 15:50 WIB

RUPIAH MELEMAH, ENERGI NAIK: RAKYAT MENANGGUNG BEBAN KRISIS GLOBAL

23 Maret 2026 - 04:20 WIB

ESKALASI KONFLIK DI TIMUR TENGAH : UJIAN NYATA KETAHANAN ENERGI INDONESIA

13 Maret 2026 - 05:58 WIB

Trending di Opini