Menu

Mode Gelap
Satgas Pamtas Yonarmed 13 Kostrad Terima Kunjungan Kerja Dankolakopsrem 121/Alambhana Wanawwai Petarung Yonif 305 Kostrad Matangkan Persiapan Hadapi Lomba Pencak Silat Militer Danbrigif 14 Kostrad Pimpin Tradisi Pindah Satuan Prajurit Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Bangun Gapura Batas Desa Eban–Sallu Satgas INDORDB XXXIX-G MONUSCO Peringati HUT Ke-61 Yonif 412/Bharata Eka Sakti di Republik Demokratik Kongo Yonarmed 12 Kostrad Dukung Gizi Anak Sekolah Melalui Aksi Peduli di SD Inpres Beitaus

Nasional

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri.

Avatar photobadge-check


					Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri. Perbesar

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri.

 

Jakarta, Intelpos.com

 

 

Galeri Nasional Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” di ruang seminar Galeri Nasional Indonesia, Selasa (19/5/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan kolaboratif bagi pengelola museum, kurator, seniman, dan masyarakat untuk membangun jaringan museum seni rupa yang lebih kuat, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati menegaskan pentingnya membangun jejaring antarmuseum agar ekosistem seni rupa nasional tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menurutnya, momentum Hari Museum Internasional harus menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang lebih intens antar museum seni rupa di Indonesia. Ia berharap museum-museum dapat memiliki program bersama yang mampu menghadirkan layanan publik berkualitas bagi masyarakat luas.

“Kalau museum berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Tetapi jika kita membangun jejaring dan saling menguatkan, maka potensi masing-masing museum bisa dikolaborasikan menjadi kekuatan besar,” ujarnya.

READ  Dari Tanah Papua, Amatus Yelipele Ketua DPD GEKIRA Papua Pegunungan Bawa Misi Berdayakan Petani  Menuju Kemakmuran

Sri mengungkapkan bahwa di Jakarta saja terdapat lebih dari 90 museum, sementara secara nasional jumlahnya mencapai ratusan. Karena itu, sinergi antar lembaga dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat eksistensi museum di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

Ia juga menyoroti upaya pengelola museum dalam menarik minat generasi muda. Berbagai revitalisasi dilakukan, mulai dari pembaruan tata pamer, penggunaan teknologi informasi, hingga pembangunan ruang imersif yang lebih interaktif dan modern.

“Pengunjung sekarang tidak hanya ingin melihat koleksi, tetapi juga ingin berinteraksi dan memiliki pengalaman yang bisa dibagikan di media sosial. Karena itu museum harus terus bertransformasi,” jelasnya.

Selain revitalisasi ruang pamer, museum juga menghadirkan berbagai workshop edukatif dan kegiatan interaktif agar masyarakat, khususnya anak muda, dapat merasakan pengalaman langsung saat berkunjung ke museum.

Sementara itu, Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Agung Hujatnikajennong, menilai ketertarikan terhadap seni tidak dapat dipaksakan. Menurutnya, apresiasi seni merupakan proses alami yang tumbuh dari pengalaman personal masing-masing individu.

Ia mencontohkan kisah pelukis dunia Vincent van Gogh yang baru mulai serius melukis pada usia 23 tahun meski tidak pernah mengenyam pendidikan seni formal.

“Ketertarikan pada seni itu proses. Tidak bisa dipaksa. Bisa saja seseorang awalnya datang ke museum hanya untuk berswafoto, tapi dari ribuan orang mungkin ada satu yang akhirnya benar-benar tersentuh oleh seni,” katanya.

Agung juga mengkritisi sistem birokrasi dan administrasi dalam pengelolaan proyek seni di Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya mendukung nilai gagasan dan kreativitas seniman.

Menurutnya, karya seni sering kali hanya dihitung dari aspek material dan teknis, sementara nilai ide dan gagasan belum memiliki ruang penilaian yang memadai dalam sistem administrasi negara.

READ  ALTEA BLVD Raih Predikat Platinum – 80 Points pada Greenship Awards 2025 "Best Greenship Performance – Neighborhood – Plan"

Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya membangun infrastruktur mandiri bagi para pelaku seni agar dapat bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan sistem yang ada.

“Kalau ingin hidup tenang dan bahagia di dunia seni, kita harus membangun infrastruktur sendiri karena infrastrukturnya memang belum sepenuhnya tersedia,” tuturnya.

Diskusi publik ini menjadi gambaran bahwa museum dan ruang seni di Indonesia tengah bergerak menuju transformasi besar. Kolaborasi antarlembaga, inovasi teknologi, hingga keterlibatan generasi muda menjadi kunci penting agar museum tidak hanya menjadi ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga pusat kreativitas dan dialog budaya masa depan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Nusantara Centre Gelar Deklarasi Hari Kebangkitan Ekonomi Pancasila, Peluncuran Buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan (Pergolakan Ekonomi Politik Indonesia) & Simposium Nasional “Urgensi Undang-Undang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial dalam Menata Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”, 

4 Agustus 2026 - 10:02 WIB

BRI BO Bekasi Gelar Apresiasi bagi Nasabah Pensiunan, Perkuat Layanan Berkelanjutan

4 Agustus 2026 - 02:32 WIB

Kapolri Listyo Sigit Prabowo Resmi Tutup Kejuaraan Bulu Tangkis Kapolri Cup 2026, Tegaskan Komitmen Polri Dukung Prestasi Atlet Nasional

2 Agustus 2026 - 10:52 WIB

International CMA Batch 19: Langkah Nyata Menuju Profesionalisme Global

1 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Sinergi Wartawan dan Agraria: PJBW-BPN Bogor 1 Gelar Aksi Sosial di Jalan Tegar Beriman

1 Agustus 2026 - 08:43 WIB

Trending di Nasional