Menu

Mode Gelap
Peleton Tangkas Brigif 3 Kostrad Uji Ketajaman Menembak dan Kekompakan Bela Diri Yonarmed 12 Kostrad Tanamkan Disiplin Sejak Dini melalui Latihan PBB di SMPN Dafala Semarak HUT ke-81 RI di Perbatasan, Yonarmed 12 Kostrad Tampil Profesional Meriahkan HUT ke-81 RI, Yonkav 1 Kostrad Gelar Beragam Lomba Brigif 20 Kostrad dan Forkopimda Mimika Tabur Bunga, Kenang Jasa Pahlawan Semarak HUT ke-81 RI, Yonif 330 Kostrad Gelar Lomba dan Karnaval

Nasional

Dr. Joko Nugroho: Buku Memiliki Kekuatan Mengubah Pola Pikir Masyarakat dan Memengaruhi Kebijakan Negara.

Avatar photobadge-check


					Dr. Joko Nugroho: Buku Memiliki Kekuatan Mengubah Pola Pikir Masyarakat dan Memengaruhi Kebijakan Negara. Perbesar

Dr. Joko Nugroho: Buku Memiliki Kekuatan Mengubah Pola Pikir Masyarakat dan Memengaruhi Kebijakan Negara.

 

Jakarta, Intelposts.com

 

Di tengah derasnya arus media sosial dan konten instan, budaya membaca buku menghadapi tantangan serius. Hal ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional bertajuk “Kutu Buku, Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” karya Dr. Joko Nugroho, S.T., M.M. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Auditorium Perpusnas RI Lantai 1, Jakarta Pusat. (Rabu, 28 Januari 2026).

Dalam pemaparannya, Dr. Joko Nugroho menegaskan bahwa membaca dan menulis buku merupakan fondasi penting dalam membangun literasi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan sarana pembentuk peradaban sekaligus pemicu perubahan sosial.
“Dengan membaca buku, sejatinya kita sedang melatih literasi kita.

Dari ilmu itulah manusia bisa menjadi sesuatu yang hebat. Hampir seluruh kemajuan berpijak pada pengetahuan,” ujarnya.

READ  Wapres Gibran Kunjungi Slipi, Korem 052/Wkr Pastikan Pengamanan VVIP Berjalan Lancar

Ia menjelaskan bahwa sejarah telah membuktikan kekuatan buku dalam mengubah pola pikir masyarakat, bahkan memengaruhi kebijakan negara. Salah satu contoh nyata adalah pemikiran R.A. Kartini yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya. Melalui buku, Kartini mampu menggugah kesadaran masyarakat bahwa perempuan memiliki kedudukan setara dengan laki-laki, menentang pandangan lama yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.
Contoh lainnya adalah novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik sistem tanam paksa pada masa kolonial.

Buku tersebut memberikan dampak besar hingga akhirnya memengaruhi kebijakan Pemerintah Belanda terhadap praktik tanam paksa. “Ini membuktikan bahwa buku dapat menjadi alat kontrol sosial dan penggerak perubahan kebijakan,” jelasnya.

Dr. Joko Nugroho juga menyinggung karya klasik The Republic karya Plato yang ditulis sekitar 300 SM. Menurutnya, buku tersebut telah memuat gagasan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, jauh sebelum sistem demokrasi modern berkembang.

“Gagasan besar dunia lahir dari buku,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya peran negara dalam mendukung ekosistem perbukuan. Ia membandingkan kebijakan di India yang memberikan subsidi besar sehingga harga buku menjadi sangat terjangkau.

Sementara di Indonesia, harga buku masih relatif mahal, sehingga membatasi akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.
Meski perkembangan teknologi digital memungkinkan masyarakat membaca secara daring, Dr. Joko Nugroho menilai dukungan kebijakan pemerintah tetap krusial. “Baik buku cetak maupun digital, literasi tetap memerlukan keberpihakan kebijakan agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Terkait bukunya Kutu Buku, ia menyampaikan bahwa pesan utama yang ingin disampaikan adalah pentingnya membiasakan diri membaca secara sungguh-sungguh. “Makna Mengunyah Buku, Melahap Ilmu adalah membaca dengan serius, mencerna isinya. Dari situlah ilmu dan inspirasi lahir. Harapan saya, terutama untuk generasi muda, agar menjadikan membaca sebagai kebiasaan,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Katup Indonesia (HAKINDO), Patrick Tanato: Potensi Besar Terpendam: 75% Kapasitas Produksi Katup Nasional Menganggur, HAKINDO Desak Netralitas Tender dan Reformasi Verifikasi TKDN

18 Agustus 2026 - 19:45 WIB

Direktur Hubungan Masyarakat CNGR Indonesia, Magdalena Veronika: Industri Pengolahan Nikel Nasional harus Memiliki Kemampuan Beradaptasi yang Tinggi terhadap Perubahan Kebutuhan Pasar Internasional.

18 Agustus 2026 - 08:30 WIB

I Made Sandika Dwiantara, Perwakilan Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (APAMSI): Kualitas dan Keandalan Panel Surya Buatan Produsen Lokal Tidak Kalah dari Produk Impor, termasuk Produk Asal Tiongkok yang selama ini Mendominasi Pasar Global.

17 Agustus 2026 - 12:28 WIB

General Manager Alat Berat PT Pindad, Andri Setiyoso: Penguatan Industri Mesin Perkakas dan Integrasi Rantai Pasok Nasional Merupakan Kunci Kemandirian Industri Strategis dan Pertahanan Indonesia

17 Agustus 2026 - 07:51 WIB

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI), Ahmad Riandhie: Industri Peralatan Listrik Nasional Siap Jadi Penopang Utama Kawasan Industri Cerdas dan Kemandirian Teknologi Indonesia

15 Agustus 2026 - 04:28 WIB

Trending di Nasional