Menu

Mode Gelap
KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI Yonarmed 12 Kostrad Bergerak di Perbatasan, Pos Laktutus Perkuat Upaya Pencegahan TBC bagi Warga Belu Pastikan Kesiapan Tugas, Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Terima Kunjungan Asops Panglima TNI di Pos Haumeniana Doa Bersama dan Santunan Yatim, Satgas TNI Konga UNIFIL Siap Emban Misi Perdamaian Madivif 1 Kostrad Gelar Sholat Idul Adha 1447 H, Perkuat Iman dan Kebersamaan Bersama Masyarakat Prajurit dan Keluarga Besar Divif 2 Kostrad Khidmat Rayakan Idul Adha 1447 H

Opini

KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI

Avatar photobadge-check


					KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI Perbesar

KEMBALI KE PANCASILA DAN KONSTITUSI ASLI

 

Oleh: Yudhie Haryono
(Presidium Forum Negarawan)

 

 

Apa kabar Indonesia? Sungguh! Di atas meja kerja para aktifis terdapat kertas program sangat serius. Isinya beragam kegiatan substantif. Tetapi, jika diringkas hanya satu: save the nation, save the constitution. Mereka bergerak serentak: now or never.

Sebaliknya, di atas meja kerja para oligark terdapat proposal projek yang tak kalah serius. Isinya juga menggiriskan: save the family, save the corps. Mereka bergerak TSM (terstruktur, sistematik, masif) dan berteriak keras: berkuasa atau dipenjara.

Para oligark untuk semetara, unggul. Mereka menghasilkan kekuasaan plus kurikulum krisis jatidiri. Sementara kaum aktifis kalah perang bertubi-tubi. Kaum idealis remuk redam dan tak menemukan strategi baru perlawanan.

Kurikulum krisis jatidiri menghasilkan kehidupan rakyat Indonesia (KRI) mutakhir yang belajar: lahir untuk menipu, tumbuh untuk mencuri, berkembang untuk merampok dan berbagi dalam KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) secara terstruktur, sistematis dan masif sambil melembagakan praktik kehidupan amoralis dan anti etis di setiap lapis.

Lahir dan berkecambahlah komunitas pemuja sekulerisme, anti kemanusiaan, hobi perpecahan, politik dagang sapi dan kambing hitam, serta distrust society. Selanjutnya, suburlah gerakan fundamentalisme, radikalisme, terorisme, pinjolisme, judolisme dan KKN-isme.

Lalu, semua rakyat semesta ikut ngetuprus tanpa putus. Mereka tergilas dan tenggelam dalam arus besar Indonesia yang kehilangan mimpi menjadi mercusuar dunia; kehilangan daya peradaban non-blok; kehilangan semesta nuklir; kehilangan DNA maritim; kehilangan taqdir hibridasi.

READ  Double Downgrade Moody’s dan MSCI Picu Risiko Krisis Likuiditas dan Moneter.

Sesungguhnya, para aktifis cum idealis telah menjawab gamblang: “Indonesia butuh anak kandung ideologis yang mencintai wangi harum tubuh ibu-bapak kandungnya dan wakaf jiwa raga demi kejayaannya.”

Anak-anak patriot pancasila ini paham bahwa dalam banyak sejarah semesta, kekuatan besar tidak dibangun atas fakta, tapi atas narasi. Perang sering dimulai dengan narasi serta diakhiri dengan narasi pula. Dan, narasi yang dominan seringkali menutupi luka paling dalam, membuat korban lupa pada dendam. Padahal, korban seringkali lebih gelap nasibnya dari seribu malam.

So, ayok kita tulis narasi. Agar perang kejeniusan segera dimenangkan. Tulislah. Sebarkanlah. Dominasikanlah. Panenkan keunggulan. Kuasai dapur, siap tempur tanpa ngawur. Terus bernalar, tak henti berpikir.

Terlebih, kita berpikir maka kita mengada. Sungguh! Hidup yang mengada itu mengelola pikiran sebagai kunci mengelola kehidupan itu sendiri. Sebab, dunia luar yang kita ciptakan pada akhirnya hanyalah cerminan dari dunia dalam pikiran kita.

Itu mirip air sungai yang mengalir mengikuti sumbernya, hidup pun mengalir mengikuti sumber pikiran kita. Jika kita ingin mengubah hidup, mulailah dengan mengubah cara kita berpikir. Terlebih, setiap langkah besar yang pernah tercipta di dunia ini, pada mulanya hanya sebuah ide kecil dalam pikiran saja. Maka, mari surpluskan imajinasi (theory of mind).

Imaji besar kita adalah “negara Pancasila.” Sebuah negara yang kini hilang karena diganti jadi negara neoliberal. Sebuah negara yang bersumber dari UUD 1945 yang asli, lalu diganti jadi UUD 2002 yang menyengsarakan. Dus, jika dalam Islam ada gerakan “ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan al-hadist)” untuk mengatasi kekalahan ummat, maka di Indonesia dibutuhkan gerakan kembali ke Pancasila dan UUD 1945 yang asli untuk mengatasi kekalahan aktifis cum idealis.

READ  Refleksi Moral Badan Gizi Nasional di Penghujung Tahun 2025

Kembali menjadi negara pancasila adalah kembali menunjukkan dan merealitaskan lima prinsip Pancasila dalam kebijakannya: yang berperiketuhanan, berperikemanusiaan, berperipersatuan, berperimusyawarah dan berperikeadilan yang diikat dalam empat program dinamisnya: perlindungan, penyejahteraan, pencerdasan dan penertiban.

Dengan begitu, semoga kita segera siuman. Kembali jadi warganegara waras. Warga yang memuja kebenaran, merealisasikan moral dan etika kehidupan.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Magnifica Humanitas dan Gen Z

23 Mei 2026 - 01:37 WIB

Industrialisasi ala Soemitro: Negara yang Merancang, Pasar yang Digerakkan

1 Mei 2026 - 01:09 WIB

SKEMA WFH DI TENGAH KRISIS ENERGI : SOLUSI HEMAT ATAU SEKADAR RETORIKA?

31 Maret 2026 - 15:50 WIB

RUPIAH MELEMAH, ENERGI NAIK: RAKYAT MENANGGUNG BEBAN KRISIS GLOBAL

23 Maret 2026 - 04:20 WIB

ESKALASI KONFLIK DI TIMUR TENGAH : UJIAN NYATA KETAHANAN ENERGI INDONESIA

13 Maret 2026 - 05:58 WIB

Trending di Opini