Menu

Mode Gelap
Panas Bumi Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Hijau, PGE Dorong Penguatan Ekosistem Panas Bumi Nasional Satgas Pamtas Yonkav 8/NSW/2 Kostrad Gagalkan Penyelundupan 5.000 Detonator Aktif Panglima TNI Resmi Tutup Lomba Tembak Piala Panglima TNI 2026 Pangdivif 3 Kostrad Hadir di Tanah Papua, Perkuat Kebersamaan dan Semangat Prajurit Brigif 20/IJK Pangdivif 3 Kostrad Pimpin Sertijab Danbrigif 20/IJK di Timika Sambut HUT Ke-81 TNI, Brigif 13/Galuh Rahayu Gelar Donor Darah

Nasional

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri.

Avatar photobadge-check


					Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri. Perbesar

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati: Penting Membangun Jejaring Antarmuseum agar Ekosistem Seni Rupa Nasional tidak Berjalan Sendiri-sendiri.

 

Jakarta, Intelpos.com

 

 

Galeri Nasional Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Ekosistem Museum Seni Rupa di Indonesia: Terhubung atau Terfragmentasi?” di ruang seminar Galeri Nasional Indonesia, Selasa (19/5/2026). Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan kolaboratif bagi pengelola museum, kurator, seniman, dan masyarakat untuk membangun jaringan museum seni rupa yang lebih kuat, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Kepala Unit Pengelola Museum Seni Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati menegaskan pentingnya membangun jejaring antarmuseum agar ekosistem seni rupa nasional tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menurutnya, momentum Hari Museum Internasional harus menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang lebih intens antar museum seni rupa di Indonesia. Ia berharap museum-museum dapat memiliki program bersama yang mampu menghadirkan layanan publik berkualitas bagi masyarakat luas.

“Kalau museum berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan maksimal. Tetapi jika kita membangun jejaring dan saling menguatkan, maka potensi masing-masing museum bisa dikolaborasikan menjadi kekuatan besar,” ujarnya.

Sri mengungkapkan bahwa di Jakarta saja terdapat lebih dari 90 museum, sementara secara nasional jumlahnya mencapai ratusan. Karena itu, sinergi antar lembaga dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat eksistensi museum di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

READ 

Ia juga menyoroti upaya pengelola museum dalam menarik minat generasi muda. Berbagai revitalisasi dilakukan, mulai dari pembaruan tata pamer, penggunaan teknologi informasi, hingga pembangunan ruang imersif yang lebih interaktif dan modern.

“Pengunjung sekarang tidak hanya ingin melihat koleksi, tetapi juga ingin berinteraksi dan memiliki pengalaman yang bisa dibagikan di media sosial. Karena itu museum harus terus bertransformasi,” jelasnya.

Selain revitalisasi ruang pamer, museum juga menghadirkan berbagai workshop edukatif dan kegiatan interaktif agar masyarakat, khususnya anak muda, dapat merasakan pengalaman langsung saat berkunjung ke museum.

Sementara itu, Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Agung Hujatnikajennong, menilai ketertarikan terhadap seni tidak dapat dipaksakan. Menurutnya, apresiasi seni merupakan proses alami yang tumbuh dari pengalaman personal masing-masing individu.

Ia mencontohkan kisah pelukis dunia Vincent van Gogh yang baru mulai serius melukis pada usia 23 tahun meski tidak pernah mengenyam pendidikan seni formal.

“Ketertarikan pada seni itu proses. Tidak bisa dipaksa. Bisa saja seseorang awalnya datang ke museum hanya untuk berswafoto, tapi dari ribuan orang mungkin ada satu yang akhirnya benar-benar tersentuh oleh seni,” katanya.

Agung juga mengkritisi sistem birokrasi dan administrasi dalam pengelolaan proyek seni di Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya mendukung nilai gagasan dan kreativitas seniman.

Menurutnya, karya seni sering kali hanya dihitung dari aspek material dan teknis, sementara nilai ide dan gagasan belum memiliki ruang penilaian yang memadai dalam sistem administrasi negara.

Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya membangun infrastruktur mandiri bagi para pelaku seni agar dapat bertahan dan berkembang di tengah keterbatasan sistem yang ada.

“Kalau ingin hidup tenang dan bahagia di dunia seni, kita harus membangun infrastruktur sendiri karena infrastrukturnya memang belum sepenuhnya tersedia,” tuturnya.

READ  Kejaksaan RI Gelar “On The Spot” di Lapangan Banteng, Jakarta

Diskusi publik ini menjadi gambaran bahwa museum dan ruang seni di Indonesia tengah bergerak menuju transformasi besar. Kolaborasi antarlembaga, inovasi teknologi, hingga keterlibatan generasi muda menjadi kunci penting agar museum tidak hanya menjadi ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga pusat kreativitas dan dialog budaya masa depan.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Panas Bumi Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Transisi Hijau, PGE Dorong Penguatan Ekosistem Panas Bumi Nasional

22 September 2026 - 16:17 WIB

Sun Block di Blok M – Kolaborasi Azarine X Nailoong Peluncuran Inovasi Juaranya Sunscreen

19 September 2026 - 18:03 WIB

Polairud Polda Metro Jaya Salurkan Bantuan Kursi Roda dan Sembako kepada Warga Pluit

18 September 2026 - 00:47 WIB

Prabowo Resmikan LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai, Proyek Rp 12,1 T

16 September 2026 - 23:54 WIB

Peresmian Sekretariat BPC HIPMI Jakarta Pusat: Teguh Agung Hartanto Tegaskan Siap Jadi Barometer & Motor Penggerak Ekonomi Pengusaha Muda Nasional

16 September 2026 - 23:29 WIB

Trending di Nasional