Menu

Mode Gelap
Semarak HUT Ke-81 Kemerdekaan RI, Keluarga Besar Lanal Bintan Ikuti Berbagai Perlombaan Danlanal Simeulue Resmikan Toilet di Pantai Babang, Wujud Kepedulian TNI AL Terhadap Fasilitas Masyarakat Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI), Ahmad Riandhie: Industri Peralatan Listrik Nasional Siap Jadi Penopang Utama Kawasan Industri Cerdas dan Kemandirian Teknologi Indonesia Ketua Umum Guspenmigas Rudiyanto: Kebijakan TKDN Sektor Energi dan Migas Dinilai Belum Seimbang dengan Realitas Bisnis, Guspenmigas Desak Kepastian Regulasi, Peta Kemampuan Industri Nasional, dan Insentif Investasi yang Terukur Anggota Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno, ME. Dorong Kedaulatan Digital Nasional, Tekankan Urgensi Regulasi AI Berbasis Risiko, Percepatan RUU Satu Data Indonesia, dan Penguatan Ekosistem GovTech AI Menuju Indonesia Emas 2045 Prajurit Yonif 432 Kostrad Donor Darah, Wujud Nyata Kepedulian untuk Sesama

Nasional

Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN

Avatar photobadge-check


					Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN Perbesar

Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN

 

Oleh: Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan

 

 

 

Judul asli: The Uncomfortable Truth About Money.
Penulis: Paul Podolsky.
Penerbit: Penerbit Baca.
Tahun: 2025.
Genre: Non-Fiksi
ISBN: 978-623-8371-44-0.
Ukuran: 13x20cm
Jumlah halaman: 280+vii.
Harga: Rp111.000,-

 

“Satu-satunya yang bisa membuat orang mabuk kepayang selain cinta adalah uang,” demikian jawaban kekasihku ketika kutanya mengapa ia selingkuh. Ia tegas bilang mabuk pada uang, yang memang tak banyak kumiliki.

Di tengah kepariaan itu, hari-hariku kini sibuk mencari tahu apa itu uang. Mengapa ia begitu sakti. Dan, ketemulah buku ini. Sebuah buku lucu, tipis dan renyah berjudul “The Uncomfortable Truth About Money.”

Dengan bahasa yang sederhana dan kisah pribadi yang relatable, Podolsky mengajak kita melihat uang bukan sekadar angka, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk keputusan, peluang, dan kehidupan kita. Dari jebakan kelas sosial hingga politik kantor, dari ketidaktahuan hingga kesalahan finansial yang tak terhindarkan, buku ini membongkar semuanya—tanpa basa-basi.

READ  BRI Branch Office Bekasi Hadirkan Layanan Perbankan dan Edukasi di CFD, Masyarakat Antusias Padati Booth

Buku ini membahas bagaimana uang mengambil peran dalam kehidupan, menyoroti fakta menyakitkan tentang keuangan yang sering diabaikan. Uang itu angka, ilusi, nyata, fotamorgana, dan penjara. Keren penulis berhipotesa.

Kisah kehidupan modern kita sesungguhnya 99% adalah uang dan arsitektur ekonomi “tricle up effect.” Kisah berlangsungnya bisnis dan aksiologi “kaum miskin mensubsidi kaum kaya.” Pedih, tapi itu kenyataan tak terelakan.

Pada uang, kita mengumpulkannya dalam percakapan dan tabungan, sampai tak satu hari pun kita benar-benar lepas darinya. Uang menentukan tempat tinggal kita, makanan yang kita makan, bahkan bagaimana kita dilahirkan dan akhirnya dimakamkan. Kita hidup di dalam sangkar uang, tetapi tak tahu cara kerja jerujinya.

Coba simak tesis ini: ekonomnya kebanyakan alumni UI, ITB dan UGM. Tiga kampus terbaik di republik. Tapi, arsitektur ekonominya jualan bakso, bubur kacang ijo dan gado-gado. Ini ekonomnya yang geblek atau warganya yang goblok yah?

Tesis itu sudah lama disetujui oleh Adiaksa Wibowo (2026) sehingga menurutnya, kegagalah mendelet paradok itu akan menghasilkan rangkaian peristiwa besar. Ketika dogma kita lantang bicara kadilan sosial, ternyata yang datang kesenjangan sosial. Tentu ini akan mengakibatkan keresahan sosial. Selanjutnya, jika tak ditangani akan melahirkan kerusuhan sosial. Ujungnya pasti kerakyatan asosial. Satu postulat negara anti pancasila, tentu saja.

Balik ke buku dan uang seperti inti dalam buku yang kubaca. Paul menjelaskan bahwa sifat uang itu menyukai keteraturan dan sering menjauh dari kekacauan. Maksudnya di sini Paul ingin menunjukkan bahwa ketika sisi emosional seseorang cenderung stabil, maka uang akan mudah dan lancar dimiliki. Begitupula sebaliknya.

Pada bab 7 Paul menjelaskan bahwa dana darurat merupakan sarana pelindung dalam menghadapi gangguan keuangan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba. Besarannya tidak ditentukan secara pasti. Hal ini adalah hal yang paling tidak disadari dan dikerjakan oleh warga negara Indonesia. Krisis dan kemiskinan membuat warga kita tak cukup dana untuk disimpan, terutama dana darurat.

READ  HM Rusdi Taher Ketua Umum KKM Bone Hadiri Ziarah Makam Leluhur Di TMP Kalibata

Karena ditulis oleh mantan eksekutif hedge fund, buku ini menggabungkan wawasan ekonomi praktis dengan pengalaman pribadi, berfokus pada manajemen emosi, kesabaran, dan disiplin dalam mengelola keuangan. Ini kelebihan lainnya dari buku tipis yang kita baca.

Yang jelas, tulisannya memberikan pandangan jujur, tajam, dan tidak menggurui mengenai realitas ekonomi yang sering ribet, menyebalkan sekaligus memenjara. Ya, duit dan uang memang “penjara modern” abad ini.

Akhirnya, dengan buku ini kita menyadari bahwa hidup hari ini sedang di puncak zaman amoral dan feodal karena “uangisme.” Ini zaman yang penuh distraksi, kontradiktoris dan godaan. Hampir semua orang rusak, khianat, dajjal, psikopat dan rakus pada uang dan uang. Bahkan, peradaban kita kini bertumpu dan berputar dari, oleh dan untuk uang.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Produsen Peralatan Listrik Indonesia (APPI), Ahmad Riandhie: Industri Peralatan Listrik Nasional Siap Jadi Penopang Utama Kawasan Industri Cerdas dan Kemandirian Teknologi Indonesia

15 Agustus 2026 - 04:28 WIB

Ketua Umum Guspenmigas Rudiyanto: Kebijakan TKDN Sektor Energi dan Migas Dinilai Belum Seimbang dengan Realitas Bisnis, Guspenmigas Desak Kepastian Regulasi, Peta Kemampuan Industri Nasional, dan Insentif Investasi yang Terukur

14 Agustus 2026 - 11:47 WIB

Anggota Komisi I DPR RI, Dave Akbarshah Fikarno, ME. Dorong Kedaulatan Digital Nasional, Tekankan Urgensi Regulasi AI Berbasis Risiko, Percepatan RUU Satu Data Indonesia, dan Penguatan Ekosistem GovTech AI Menuju Indonesia Emas 2045

14 Agustus 2026 - 10:46 WIB

Ketua Umum Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI), Dr. M. Akbar Marwan, S.T., M.M.S.I.: Industri Drone Indonesia Tumbuh Pesat, APDI Tekankan Urgensi Kemandirian Ekosistem Nasional di Tengah Momentum Pasar Global

14 Agustus 2026 - 05:18 WIB

Indonesia Deklarasikan Dukungan Roadmap AI Nasional 2026–2029: Langkah Strategis Menuju Kedaulatan Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Bangsa

14 Agustus 2026 - 03:59 WIB

Trending di Nasional