Menu

Mode Gelap
PERKUAT NAVY BROTHERHOOD, KODAERAL III TERIMA CC DELEGASI INDIAN NAVY MENGEMBAN MISI “ONE OCEAN, ONE MISSION”, KODAERAL III SAMBUT KEDATANGAN INS SUNAYNA PERKUAT SINERGI TNI AL DAN PEMKOT JAKARTA UTARA, DANKODAERAL III GELAR OLAHRAGA BERSAMA Bakti di Batas Cerdas Tanpa Batas, Satgas Pamtas Yonarhanud 2 Kostrad Jadi Guru di SDK Tali Yonarmed 12 Kostrad Perkuat Stabilitas Perbatasan Melalui Pendekatan Persuasif Dentuman Senjata di Ajusta Shooting Range: Prajurit Yonarmed 1 dan Taruna Akmil Tempa Ketajaman Menembak Match 3

Nasional

MENGUBUR MENTAL KOLONIAL

Avatar photobadge-check


					MENGUBUR MENTAL KOLONIAL Perbesar

MENGUBUR MENTAL KOLONIAL

 

Oleh: Iwan Gunawan | Periset Senior Nusantara Senior.

 

Indonesia kerap disebut sebagai negeri kaya yang hidup miskin. Ungkapan ini terdengar klise, tetapi terus menemukan pembenarannya. Data resmi dan terbuka menunjukkan Indonesia berada di jajaran teratas dunia dalam cadangan energi, pangan, dan mineral kritis. Namun kekayaan itu tak kunjung menjelma menjadi kekuatan. Ia berhenti sebagai potensi, bukan daya.

Masalahnya bukan pada ketiadaan sumber daya alam, melainkan pada cara bangsa ini memaknainya.

John Archibald Wheeler, fisikawan teoretis Amerika Serikat, pernah mengajukan sebuah gagasan yang terdengar abstrak: it from bit. Realitas, menurut Wheeler, lahir dari informasi. Sesuatu menjadi “ada” bukan semata karena ia eksis secara material, melainkan karena ia dikenali, dipahami, dan diberi makna melalui pengetahuan. Dalam konteks ekonomi-politik, sumber daya alam baru menjadi kekuatan jika ia hadir sebagai kesadaran strategis, bukan sekadar angka statistik atau komoditas dagang.

Secara faktual, posisi Indonesia sangat kuat. Cadangan batubara termasuk terbesar di dunia. Nikel—mineral kunci transisi energi dan baterai kendaraan listrik—menempatkan Indonesia sebagai pemain global utama. Potensi panas bumi menjadikan Indonesia pusat energi terbarukan dunia, meski pemanfaatannya masih tertinggal jauh. Di sektor pangan dan kelautan, Indonesia juga berada di barisan depan produsen dunia.

READ  BRI Kebayoran Baru Dukung Pentas Seni Labschool Jakarta

Namun di titik inilah paradoks bekerja. Kekayaan yang besar itu tidak berbanding lurus dengan pemerataan, kemandirian, atau daya tawar negara. Nilai tambah lebih banyak mengalir keluar. Negara sering hadir sebagai regulator administratif, bukan sebagai arsitek nilai. Relasi ekonomi yang terbentuk masih menyerupai pola lama: bahan mentah keluar, keuntungan menumpuk di pusat, dan masyarakat lokal tetap berada di pinggiran.

Ini bukan sekadar soal kebijakan teknis. Ini soal watak. Inilah yang oleh banyak pemikir disebut sebagai sisa mental kolonial—bukan dalam arti penjajahan fisik, melainkan cara berpikir. Mental yang melihat kekayaan alam sebagai sesuatu yang “lebih aman” dikelola orang lain. Mental yang puas pada setoran jangka pendek, tetapi abai pada kedaulatan jangka panjang. Mental yang mengganti visi dengan insting pasar.

Padahal, kekuatan masa depan sebuah negara—future power—ditentukan oleh tiga fondasi utama: energi, pangan, dan mineral kritis. Ketiganya bukan lagi isu ekonomi semata, melainkan basis geopolitik global. Negara yang menguasai relasi antara sumber daya, teknologi, dan informasi akan menentukan arah dunia. Negara yang gagal mengelola relasi itu akan terus menjadi pemasok bagi kemakmuran pihak lain.

Di sinilah persoalan Indonesia menjadi terang. Bukan kekurangan sumber daya, melainkan kekurangan relasi generatif. Data tersedia, tetapi tidak terhubung menjadi strategi. Potensi ada, tetapi tidak diterjemahkan menjadi arsitektur kebijakan. Sumber daya hadir, tetapi tidak membentuk daya.

Nilai tidak lahir dari objek semata, melainkan dari hubungan. Panas bumi bukan sekadar megawatt; ia adalah relasi antara ilmu geologi, investasi, keberanian politik, dan visi energi bersih. Nikel bukan hanya tonase bijih; ia adalah relasi antara industri, riset, tenaga kerja, dan posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pangan bukan sekadar produksi, tetapi relasi antara petani, teknologi, pasar, dan perlindungan negara.

READ  RPA Indonesia Desak Polisi Tangkap Segera Pelaku Kekerasan Seksual Santriwati di Probolinggo

Selama relasi-relasi itu timpang, selama informasi tentang kekayaan tidak menjadi kesadaran strategis nasional, Indonesia akan terus mengulang cerita lama: kaya di atas kertas, miskin dalam kenyataan.

Mengubur mental kolonial berarti berani mengubah cara pandang. Mengakui bahwa selama ini kita kerap memilih jalan termudah, bukan jalan konstitusional. Mengakui bahwa ketergantungan bukan takdir, melainkan pilihan yang diwariskan dan terus dipelihara. Dari pengakuan itu, lahir kemungkinan baru: membangun mentalitas pengelola, bukan penyewa; perancang masa depan, bukan penonton pasar.

Pengalaman sebagai bangsa terjajah seharusnya menjadi hikmah, bukan beban. Ia mestinya melahirkan kewaspadaan terhadap pola lama yang menjelma dalam wajah baru. Neokolonialisme tidak selalu datang dengan senjata; ia hadir melalui kontrak, utang, dan kerelaan menyerahkan kendali.

Kekayaan Indonesia tidak hilang. Ia ada, tercatat, dan diakui dunia. Yang belum sepenuhnya hadir adalah keberanian untuk menghubungkan potensi itu menjadi kekuatan. Dalam bahasa Wheeler, the _bits are already there._ Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa kaya Indonesia, melainkan: apakah kita siap mengubah pengetahuan tentang kekayaan itu menjadi kendali atas masa depan kita sendiri? Semoga.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Didirikan 9 Sinode Gereja Besar di SUMUT, Organisasi  “Persaudaraan Warga Gereja Sumatera Utara” (PWGSU) Siap Mewadahi Warga Gereja Diaspora Dalam Membangun SUMUT dan Bangsa

19 April 2026 - 03:51 WIB

Solusi Aksara Hadirkan Teknologi Pirolisis Modern untuk Atasi Sampah Bali

17 April 2026 - 16:52 WIB

EVA MULIA CLINIC DAPAT AWARD BRAND FOR GOOD 2026

17 April 2026 - 12:47 WIB

BRI Cabang Kebayoran Baru Luncurkan Kartu Debit Edisi Khusus Kolaborasi dengan FC Barcelona

15 April 2026 - 12:09 WIB

BRI KC Jakarta Rasuna Said Kolaborasi Optimalkan Akusisi Produk Melalui Event Film Gala Premier “Pelangi di Mars” Di Epicentrum XXI – Jakarta Selatan

14 April 2026 - 13:24 WIB

Trending di Nasional