Menu

Mode Gelap
WAKILI DANKODAERAL III, WADAN HADIRI PELEPASAN MUDIK GRATIS BERSAMA TNI AL LINTAS PULAU TUJUAN BANGKA BELITUNG Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN Pangkostrad Hadiri Penerimaan Perwira Remaja TNI AD Abituren Dikmapa PK TA 2026 Dihadiri Sekjen Kemendagri      Komjen. Pol. Drs. Tomsi Tohir, M.Si  dan Duta Besar Timor Timur  Roberto Sarmento de Oliveira Soares  , BNPP  Gelar Santunan Anak Yatim dan Pembagian Sembako sekaligus Buka Puasa Bersama Lanal Dabo Singkep Gelar Bazar Ramadhan Murah dan Bagikan Takjil Kepada Masyarakat Wakasad Pimpin Penerimaan Perwira Remaja TNI AD Abituren Dikmapa PK TA 2026

Nasional

Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN

Avatar photobadge-check


					Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN Perbesar

Resensi Buku: DIPENJARA UANG ITU MANUSIA MODERN

 

Oleh: Yudhie Haryono | Presidium Forum Negarawan

 

 

 

Judul asli: The Uncomfortable Truth About Money.
Penulis: Paul Podolsky.
Penerbit: Penerbit Baca.
Tahun: 2025.
Genre: Non-Fiksi
ISBN: 978-623-8371-44-0.
Ukuran: 13x20cm
Jumlah halaman: 280+vii.
Harga: Rp111.000,-

 

“Satu-satunya yang bisa membuat orang mabuk kepayang selain cinta adalah uang,” demikian jawaban kekasihku ketika kutanya mengapa ia selingkuh. Ia tegas bilang mabuk pada uang, yang memang tak banyak kumiliki.

Di tengah kepariaan itu, hari-hariku kini sibuk mencari tahu apa itu uang. Mengapa ia begitu sakti. Dan, ketemulah buku ini. Sebuah buku lucu, tipis dan renyah berjudul “The Uncomfortable Truth About Money.”

Dengan bahasa yang sederhana dan kisah pribadi yang relatable, Podolsky mengajak kita melihat uang bukan sekadar angka, tetapi sebagai kekuatan yang membentuk keputusan, peluang, dan kehidupan kita. Dari jebakan kelas sosial hingga politik kantor, dari ketidaktahuan hingga kesalahan finansial yang tak terhindarkan, buku ini membongkar semuanya—tanpa basa-basi.

Buku ini membahas bagaimana uang mengambil peran dalam kehidupan, menyoroti fakta menyakitkan tentang keuangan yang sering diabaikan. Uang itu angka, ilusi, nyata, fotamorgana, dan penjara. Keren penulis berhipotesa.

READ  VEGA HOTEL GADING SERPONG HADIRKAN SOLUSI RUANG PERTEMUAN STRATEGIS DENGAN FASILITAS LENGKAP DAN HARGA KOMPETITIF

Kisah kehidupan modern kita sesungguhnya 99% adalah uang dan arsitektur ekonomi “tricle up effect.” Kisah berlangsungnya bisnis dan aksiologi “kaum miskin mensubsidi kaum kaya.” Pedih, tapi itu kenyataan tak terelakan.

Pada uang, kita mengumpulkannya dalam percakapan dan tabungan, sampai tak satu hari pun kita benar-benar lepas darinya. Uang menentukan tempat tinggal kita, makanan yang kita makan, bahkan bagaimana kita dilahirkan dan akhirnya dimakamkan. Kita hidup di dalam sangkar uang, tetapi tak tahu cara kerja jerujinya.

Coba simak tesis ini: ekonomnya kebanyakan alumni UI, ITB dan UGM. Tiga kampus terbaik di republik. Tapi, arsitektur ekonominya jualan bakso, bubur kacang ijo dan gado-gado. Ini ekonomnya yang geblek atau warganya yang goblok yah?

Tesis itu sudah lama disetujui oleh Adiaksa Wibowo (2026) sehingga menurutnya, kegagalah mendelet paradok itu akan menghasilkan rangkaian peristiwa besar. Ketika dogma kita lantang bicara kadilan sosial, ternyata yang datang kesenjangan sosial. Tentu ini akan mengakibatkan keresahan sosial. Selanjutnya, jika tak ditangani akan melahirkan kerusuhan sosial. Ujungnya pasti kerakyatan asosial. Satu postulat negara anti pancasila, tentu saja.

Balik ke buku dan uang seperti inti dalam buku yang kubaca. Paul menjelaskan bahwa sifat uang itu menyukai keteraturan dan sering menjauh dari kekacauan. Maksudnya di sini Paul ingin menunjukkan bahwa ketika sisi emosional seseorang cenderung stabil, maka uang akan mudah dan lancar dimiliki. Begitupula sebaliknya.

Pada bab 7 Paul menjelaskan bahwa dana darurat merupakan sarana pelindung dalam menghadapi gangguan keuangan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba. Besarannya tidak ditentukan secara pasti. Hal ini adalah hal yang paling tidak disadari dan dikerjakan oleh warga negara Indonesia. Krisis dan kemiskinan membuat warga kita tak cukup dana untuk disimpan, terutama dana darurat.

READ  Bupati Solok Hadiri Seminar Nasional Ketahanan Pangan di Jakarta

Karena ditulis oleh mantan eksekutif hedge fund, buku ini menggabungkan wawasan ekonomi praktis dengan pengalaman pribadi, berfokus pada manajemen emosi, kesabaran, dan disiplin dalam mengelola keuangan. Ini kelebihan lainnya dari buku tipis yang kita baca.

Yang jelas, tulisannya memberikan pandangan jujur, tajam, dan tidak menggurui mengenai realitas ekonomi yang sering ribet, menyebalkan sekaligus memenjara. Ya, duit dan uang memang “penjara modern” abad ini.

Akhirnya, dengan buku ini kita menyadari bahwa hidup hari ini sedang di puncak zaman amoral dan feodal karena “uangisme.” Ini zaman yang penuh distraksi, kontradiktoris dan godaan. Hampir semua orang rusak, khianat, dajjal, psikopat dan rakus pada uang dan uang. Bahkan, peradaban kita kini bertumpu dan berputar dari, oleh dan untuk uang.(*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dihadiri Sekjen Kemendagri      Komjen. Pol. Drs. Tomsi Tohir, M.Si  dan Duta Besar Timor Timur  Roberto Sarmento de Oliveira Soares  , BNPP  Gelar Santunan Anak Yatim dan Pembagian Sembako sekaligus Buka Puasa Bersama

14 Maret 2026 - 04:40 WIB

Komenwa Indonesia dan Pramarin Gelar Buka Puasa Bersama Insan Pers 

13 Maret 2026 - 12:09 WIB

Polresta Jakarta Utara, Badan Pangan Nasional dan Badan Usaha Logistik BULOG Kelapa Gading, Gelar Gerakan Pangan Murah Menyambut Ramadhan 1447 H.

13 Maret 2026 - 08:58 WIB

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta Gelar Rapat Pimpinan Provinsi (RAPIMPROV) II Tahun 2026

9 Maret 2026 - 12:25 WIB

Partai Golkar DKI Jakarta Gelar Safari dan Silaturahmi Ramadan 2026

7 Maret 2026 - 15:32 WIB

Trending di Nasional