Tantangan Pendidikan Prajurit di Tengah Pemangkasan Durasi, Danrindam Jaya Pastikan Kualitas Tetap Terjaga

JAKARTA, Intelposts.com
Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Danrindam) Jaya Brigjen TNI Gustiawan Ferdianto, S.I.P., M.Han., mengaku bangga dapat melahirkan prajurit-prajurit muda yang nantinya menjadi bagian dari kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).
Hal tersebut disampaikan Brigjen TNI Gustiawan Ferdianto usai memimpin upacara penutupan Pendidikan Pertama Tamtama (Dikmata) Infanteri TNI AD Gelombang II Tahun Anggaran 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, lembaga pendidikan TNI AD memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk prajurit yang tidak hanya memiliki kemampuan dasar kemiliteran, tetapi juga siap melanjutkan pengabdian para seniornya di berbagai satuan.
“Saya merasa bangga bisa melahirkan prajurit-prajurit kebanggaan yang nantinya akan menjadi bagian dari TNI AD. Harapan saya melalui lembaga ini, mereka juga bisa melanjutkan perjuangan para seniornya di satuan-satuan yang baru,” ujar Gustiawan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan pendidikan kali ini menghadapi tantangan tersendiri, terutama dari sisi jumlah peserta didik yang lebih besar dibandingkan pelaksanaan pendidikan sebelumnya.
Secara nasional, jumlah prajurit yang mengikuti pendidikan mencapai sekitar 19.000 personel. Sementara itu, Kodam Jaya mendidik sekitar 266 personel dalam program tersebut.
“Yang pertama, jumlah personel yang dididik tentunya lebih banyak dari biasanya. Kemudian durasi pendidikan yang semula lima bulan menjadi dua bulan. Itu menjadi tantangan bagi kami,” katanya.
Meski menghadapi keterbatasan waktu pendidikan, Gustiawan menegaskan kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas prajurit yang dihasilkan.
Pihaknya, kata dia, berupaya semaksimal mungkin agar seluruh materi dan pembentukan kemampuan dasar prajurit tetap dapat diberikan secara optimal sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
“Kami berusaha sekuat tenaga. Tentunya dengan terbatasnya atau dipangkasnya waktu pendidikan, tidak mungkin kami mengurangi kualitas yang dihasilkan,” tegasnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan ditutup secara resmi, para prajurit tersebut selanjutnya akan mengikuti pendidikan kejuruan di Pusat Latihan Pertempuran (Platpur) Gunung Bunder.
Pendidikan lanjutan tersebut diarahkan untuk mempertajam kemampuan dan keterampilan prajurit sesuai kecabangan yang akan mereka jalani, khususnya kecabangan infanteri.
“Setelah ditutup, mereka akan melanjutkan kejuruan di Platpur Gunung Bunder untuk mempertajam kemampuan mereka sesuai percabangannya, yaitu infanteri,” jelas Gustiawan.
Ia menambahkan, para prajurit yang telah menyelesaikan rangkaian pendidikan tersebut nantinya akan ditempatkan untuk mengisi satuan-satuan baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Untuk wilayah Kodam Jaya, para prajurit akan diarahkan untuk memperkuat kebutuhan personel di satuan-satuan yang berada dalam jajaran Kodam Jaya.
Menurut Gustiawan, keberadaan prajurit-prajurit baru tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat organisasi TNI AD sekaligus menjawab kebutuhan personel seiring perkembangan dan pembentukan satuan-satuan baru.
Dengan bekal pendidikan dasar dan kejuruan yang diberikan, para prajurit diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional, disiplin, serta siap menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan tugas di satuan masing-masing.














